BIC 2025 Hadirkan Kolaborasi Global dari Empat Negara di Kampus UIN Mahmud Yunus Batusangkar

Tanah Datar, 11 Oktober 2025 – Batusangkar kembali menjadi pusat perhatian akademik internasional dengan terselenggaranya The 10th Batusangkar International Conference (BIC) 2025 yang mengusung tema “Digital Technologies for Sustainable Development”. Konferensi bergengsi yang digelar pada 11–12 Oktober 2025 ini diadakan oleh Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Mahmud Yunus Batusangkar, menghadirkan total 300 peserta dari dalam dan luar negeri. Kegiatan yang berlangsung secara hybrid (luring dan daring) ini menjadi ajang kolaborasi lintas negara dalam membahas peran teknologi digital untuk pembangunan berkelanjutan di berbagai sektor kehidupan.

Acara resmi dibuka oleh Rektor UIN Mahmud Yunus Batusangkar, Prof. Delmus Salim Puneri, Ph.D., yang dalam sambutannya menegaskan bahwa konferensi internasional seperti BIC menjadi ruang penting bagi penguatan reputasi akademik UIN di tingkat global. Ia menekankan bahwa kampus harus menjadi penggerak utama dalam mendorong inovasi digital yang berakar pada nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan. “UIN Mahmud Yunus Batusangkar berkomitmen menjadi pusat riset dan kolaborasi internasional, di mana sains dan iman berjalan beriringan untuk kemaslahatan umat,” ujarnya disambut tepuk tangan peserta.

Konferensi internasional ini menghadirkan narasumber dari empat negara, yakni Malaysia, Australia, Mesir, dan Pakistan, yang dikenal luas sebagai akademisi dan peneliti di bidang pendidikan, psikospiritual Islam, ekonomi, dan teknologi digital. Mereka adalah Prof. Dr. Che Zarrina Sa’ari dari Universiti Malaya (Malaysia), Dr. Helena Sit dari University of Newcastle (Australia), Prof. Dr. Mahmoud Mansour dari Al-Azhar University (Mesir), dan Dr. Omar Javaid dari Institute of Business Management (Pakistan). Kehadiran para ilmuwan lintas negara ini menandai semangat BIC sebagai forum akademik global yang inklusif, terbuka, dan berorientasi masa depan.

Dalam sambutannya, Direktur Pascasarjana UIN Mahmud Yunus Batusangkar, Prof. Dr. Marjoni Imamora, M.Sc, menyampaikan rasa bangga atas terselenggaranya konferensi ini. Ia menegaskan bahwa BIC bukan sekadar forum ilmiah, tetapi juga ruang pertemuan ide-ide besar yang berupaya memadukan nilai-nilai keislaman, kemanusiaan, dan kemajuan teknologi. “BIC adalah momentum untuk memperkuat kolaborasi riset global dalam membangun masa depan yang berkelanjutan, adil, dan beretika,” ujarnya dalam sambutan pembukaan.

Sementara itu, Ketua Panitia BIC 2025, Dr. Sirajul Munir, M.Pd, menekankan bahwa konferensi tahun ini menjadi istimewa karena menggabungkan pendekatan lintas disiplin — mulai dari pendidikan, hukum Islam, ekonomi syariah, hingga studi keislaman digital. “Kami merancang BIC 2025 sebagai wadah dialog antara akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai bidang agar dapat menghasilkan solusi yang konkret untuk isu-isu global, terutama dalam menghadapi tantangan era industri 4.0,” ujarnya.

Peserta yang hadir terdiri atas dosen, peneliti, mahasiswa pascasarjana, dan praktisi pendidikan dari berbagai universitas di Indonesia, serta peserta internasional dari Malaysia, Brunei Darussalam, Mesir, dan Pakistan. Total terdapat 300 peserta yang mengikuti konferensi ini, dengan sekitar 80 orang hadir secara luring di kampus UIN Mahmud Yunus Batusangkar, dan sisanya berpartisipasi secara daring melalui platform Zoom Meeting. Atmosfer akademik terasa hidup, dengan puluhan sesi paralel yang membahas lebih dari 40 makalah penelitian di bidang pendidikan, hukum, ekonomi, dan studi Islam.

Salah satu sesi yang menarik perhatian peserta adalah pemaparan dari Prof. Dr. Che Zarrina Sa’ari yang mengangkat topik “Utilizing Digital Technology in Islamic Psychospiritual Therapy Counselling Services for Sustainability.” Dalam paparannya, ia menjelaskan pentingnya memadukan nilai-nilai spiritual Islam dengan kemajuan teknologi digital dalam bidang kesehatan mental. Sementara Dr. Helena Sit dari Australia membahas tentang integrasi digital dalam pendidikan bahasa, dan Dr. Omar Javaid dari Pakistan menyoroti peran moralitas dalam ekonomi digital berbasis komunitas Muslim.

Selain presentasi para keynote speaker, BIC 2025 juga diwarnai oleh berbagai sesi panel dan diskusi paralel yang membahas tema-tema aktual seperti Artificial Intelligence in Education, Fintech Syariah dan Inklusi Keuangan Digital, serta Digitalisasi Dakwah dan Pendidikan Islam. Melalui forum ini, peserta dari berbagai perguruan tinggi berkesempatan mempresentasikan hasil penelitian mereka dan membangun jejaring kolaboratif lintas institusi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Antusiasme peserta terlihat dari aktifnya diskusi dan pertukaran gagasan selama dua hari penuh.

Menutup kegiatan, panitia menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dan pemateri atas dedikasi dan semangat kolaborasi yang ditunjukkan sepanjang konferensi. Prof. Marjoni menegaskan bahwa hasil-hasil riset yang disajikan dalam BIC 2025 akan disusun menjadi proceeding internasional dan menjadi referensi penting dalam pengembangan kebijakan akademik serta riset terapan di bidang teknologi berkelanjutan. Dengan berakhirnya acara ini, UIN Mahmud Yunus Batusangkar kembali menegaskan posisinya sebagai pusat inovasi dan dialog akademik global yang berkomitmen untuk menjembatani sains, spiritualitas, dan kemajuan peradaban digital.