BIC X UIN Batusangkar Soroti Darurat Transformasi Digital dalam Konseling Psikospiritual Islam, Pakar Universiti Malaya Desak Tiga Langkah Krusial untuk Akses Layanan Mental Komunitas Muslim
BATUSANGKAR, 15 OKTOBER 2025 – Konferensi Internasional Batusangkar (BIC) ke-10 yang digelar oleh Pascasarjana UIN Mahmud Yunus Batusangkar pada 11-12 Oktober 2025 menjadi panggung strategis untuk membahas isu fundamental dalam layanan kesehatan mental komunitas Muslim. Dalam sesi pleno yang tegas dan lugas, Professor Dr. Che Zarrina Sa’ari, pakar terkemuka dari Department of Aqidah and Islamic Thought, Academy of Islamic Studies, Universiti Malaya, secara akurat memaparkan kebutuhan mendesak akan transformasi digital dalam Konseling Terapi Psikospiritual Islam.
Di hadapan akademisi dan peneliti global, Prof. Dr. Che Zarrina Sa’ari menyampaikan kajian krusialnya berjudul “Utilizing Digital Technology in Islamic Psychospiritual Therapy Counselling Services for Sustainability”. Beliau menegaskan bahwa layanan konseling berbasis Islam harus segera mengadopsi kerangka digital untuk menjembatani jurang antara kebutuhan spiritual-budaya yang unik dengan akses layanan yang terjangkau.
Tiga Pilar Transformasi: Dari Revolusi ke Integrasi Spiritual
Dalam paparannya, Prof. Dr. Che Zarrina Sa’ari menyusun sebuah peta jalan akuntabel untuk transformasi digital layanan konseling psikospiritual Islam. Terdapat tiga langkah kunci yang wajib dilaksanakan:
- Digital Revolution (Revolusi Digital): Tahap awal pemanfaatan teknologi secara masif untuk mendigitalkan seluruh aspek layanan konseling.
- Spiritual Integration (Integrasi Spiritual): Memastikan konten dan metodologi digital yang dikembangkan secara mendalam menghormati, menginternalisasi, dan berlandaskan pada nilai-nilai serta prinsip-prinsip Islam.
- Digital Integration (Integrasi Digital): Menggabungkan revolusi teknologi dengan integrasi spiritual menjadi satu ekosistem digital yang utuh, fungsional, dan berkelanjutan (sustainable).
Tantangan Faktual: Stigma, Miss-interpretasi Agama, dan Kebutuhan Unik Muslim
Prof. Che Zarrina Sa’ari menyoroti secara faktual mengapa transformasi ini mutlak diperlukan. Komunitas Muslim menghadapi kebutuhan konseling spiritual dan budaya yang unik yang secara konsisten diabaikan oleh platform kesehatan mental digital konvensional.
Beliau memaparkan dua tantangan utama yang menghalangi akses layanan:
- Stigma Budaya: Pengakuan terhadap gangguan psikologis seringkali dihadapkan pada nilai-nilai agama tentang kesabaran (sabr) dan keyakinan, yang secara keliru diinterpretasikan sebagai kelemahan iman. Hal ini menimbulkan keengganan yang kuat untuk mencari bantuan profesional psikologis.
- Keyakinan Agama yang Salah (Blind Faith): Kecenderungan sebagian Muslim untuk memilih intervensi yang hanya melibatkan doa, pembacaan Al-Qur’an, dan dzikir sebagai sumber kenyamanan rohani, tanpa adanya panduan yang terarah dan terstruktur dari pakar layanan kesehatan mental. Norma budaya juga turut mempengaruhi keterbukaan seseorang untuk menerima layanan psikologis profesional.
Solusi Tegas: Psikospiritual Islam dan Peluang Teknologi Digital
Guna mengatasi darurat ini, Prof. Che Zarrina Sa’ari secara tegas menawarkan dua solusi terpadu:
- Intervention Solution: Konseling Terapi Psikospiritual Islam adalah pilihan esensial yang terbukti mampu memenuhi kebutuhan mendasar umat Muslim dalam mencari bantuan terkait masalah kesehatan mental dengan pendekatan yang selaras dengan keyakinan mereka.
- Digital Solution: Teknologi digital menawarkan peluang menjanjikan untuk menciptakan layanan kesehatan mental yang terjangkau sekaligus menghormati nilai-nilai spiritual dan budaya Islam.
Pemaparan Prof. Dr. Che Zarrina Sa’ari pada BIC X Pascasarjana UIN Mahmud Yunus Batusangkar ini menjadi penegasan penting bahwa Inovasi Digital dalam layanan Psikospiritual Islam bukan lagi pilihan, melainkan keharusan faktual untuk menjamin keberlanjutan dan kesehatan mental umat.
Disarikan oleh Dr. Silvianetri dan Dr. Fathur Rahmi dalam kegiatan the 10th Batusangkar International Conference
***
