Transformasi Pendidikan Islam di Era Digital, Prof. Rahmad Hidayat: Pendidikan Islam Harus Tetap Berporos pada Misi Kenabian
Batusangkar, 14 November 2025 — Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Takengon Aceh menggelar Seminar Nasional Pendidikan Islam bertema “Transformasi Pendidikan Islam di Era Digital” yang berlangsung di Aula Utama kampus setempat, Selasa (11/11/2025).
Kegiatan ini menghadirkan narasumber nasional, Prof. Dr. H. Rahmad Hidayat, M.Ag., M.Pd,, pakar Studi Islam yang juga akademisi terkemuka, dengan materi berjudul “Analisis Filosofis Eksistensi Pendidikan Islam: Harapan dan Tantangan.”
Dalam paparannya, Prof. Rahmad menegaskan bahwa pendidikan Islam merupakan bidang yang sarat dengan misi kenabian (prophetic mission). Ia menyebut, “Secara aksiologi, pendidikan Islam bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan warisan kerasulan untuk membentuk manusia berakhlak dan berkarakter Islami.”

Mengutip hadis Rasulullah SAW, Prof. Rahmad menjelaskan bahwa Islam akan kembali dianggap asing, namun keberuntungan akan berpihak pada mereka yang tetap teguh menjaga nilai-nilai kebenaran. “Itulah hakikat peran pendidikan Islam — melahirkan individu yang baik sekaligus memperbaiki yang rusak,” ujarnya.
Dari sisi ontologi, lanjutnya, pendidikan Islam berorientasi pada pembentukan akhlak dan tabiat mulia. Ia menegaskan kembali sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Namun secara epistemologis, tantangan pendidikan Islam di era digital semakin kompleks. “Maraknya perilaku bullying, kekerasan, kemaksiatan, dan dekadensi moral menjadi bukti bahwa pendidikan kita perlu kembali ke ruh kenabian Rasulullah SAW — dalam tujuan, karakter pendidik, karakter peserta didik, metode, dan tanggung jawab pendidikan,” ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Prof. Dr. Marjoni Imamora, M.Sc, Direktur Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Mahmud Yunus Batusangkar, menyampaikan pandangan kritis terkait tema seminar tersebut.
Menurutnya, sinergi ilmu dan teknologi merupakan suatu keniscayaan, transformasi pendidikan Islam di era digital tidak boleh kehilangan substansi nilai-nilai tauhid dan kemanusiaan.
“Teknologi digital harus menjadi instrumen dakwah intelektual, bukan sekadar alat modernisasi,” tegas Prof. Marjoni.
Ia menambahkan, “Pendidikan Islam harus mampu memadukan kekuatan ilmu, nilai, dan teknologi agar lahir generasi ulul albab — generasi yang berpikir ilmiah, berakhlak Qur’ani, dan adaptif terhadap perubahan zaman.”
Lebih jauh, Prof. Marjoni mengapresiasi langkah IAIN Takengon yang menghadirkan forum ilmiah semacam ini. “Ini menunjukkan kesadaran akademik bahwa pendidikan Islam tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi antar perguruan tinggi keagamaan menjadi kunci dalam menjawab tantangan global,” ujarnya.

Rektor IAIN Takengon, Prof. Dr. Ridwan Nurdin, MCL, dalam sambutannya menekankan pentingnya memanfaatkan era digital sebagai sarana dakwah dan penguatan nilai Islam di ruang akademik.
“Kita tidak boleh alergi terhadap teknologi. Justru di sinilah tantangan bagi dosen dan mahasiswa untuk menghadirkan Islam yang Rahmadan lil ‘alamin melalui media digital, riset, dan inovasi pembelajaran,” ujarnya.
Salah satu dosen IAIN Takengon menilai bahwa seminar ini membuka kesadaran baru bagi akademisi agar lebih reflektif. “Materi Prof. Rahmad menyentuh sisi terdalam dunia pendidikan Islam, bahwa digitalisasi bukan sekadar alat, tapi juga ujian moral dan etika bagi pendidik dan peserta didik,” ungkapnya.
Sementara itu, mahasiswa Prodi PAI Pascasarjana IAIN Takengon, mengaku terinspirasi oleh pandangan para narasumber. “Saya jadi paham bahwa pendidikan Islam harus terus berevolusi tanpa kehilangan ruh spiritualitasnya. Teknologi itu sarana, bukan tujuan,” katanya.
Seminar Nasional ini menjadi wadah reflektif dan transformatif bagi civitas akademika IAIN Takengon dalam meneguhkan arah pendidikan Islam di tengah gelombang disrupsi digital.
Pesan yang mengemuka dari seluruh narasumber dan peserta ialah bahwa pendidikan Islam harus terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi, namun tetap berakar kuat pada nilai kenabian, akhlak, dan keilmuan yang berintegritas. (fathur dan desi)
***
