Batusangkar, 26 Februari 2026. Pascasarjana UIN Mahmud Yunus Batusangkar mengadakan kegiatan rutin bulanan “Kuliah Pascasarjana (KUPAS ke-9)” pada 26 Februari 2026. Acara yang berlangsung secara hybrid ini mengangkat tema “Psikosomatis dan Terapi Holistik Ramadhan” dengan menghadirkan narasumber Prof. Dr. H. Rahmad Hidayat. Kegiatan ini diikuti seluruh civitas akademika pascasarjana, serta dosen dan tenaga kependidikan (tendik) selingkup universitas.

Acara secara resmi dibuka oleh Direktur Pascasarjana, Prof. Dr. Marjoni Imamora. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya penguatan dimensi spiritual dan kesehatan mental di lingkungan akademik, terutama dalam momentum Ramadhan yang sarat nilai transformasi diri.

Dalam pemaparannya, Prof. Rahmad Hidayat menjelaskan bahwa psikosomatis merupakan kondisi ketika gangguan fisik dipengaruhi oleh faktor psikologis seperti stres, kecemasan, dan tekanan emosional. Ia menekankan bahwa pendekatan holistik dalam Islam memandang manusia sebagai kesatuan jasmani dan rohani, sehingga proses penyembuhan tidak cukup hanya melalui aspek medis, tetapi juga spiritual dan psikologis.

Menurutnya, Ramadhan menghadirkan sistem terapi alami melalui puasa, pengendalian diri, peningkatan ibadah, serta pola hidup yang lebih teratur. Dengan niat yang benar dan pola hidup sehat selama menjalankan ibadah puasa, Ramadhan tidak hanya meningkatkan kualitas ibadah, tetapi juga menjadi sarana penyembuhan jiwa dan raga.

Ia menambahkan bahwa praktik seperti shalat khusyuk, tilawah Al-Qur’an, dzikir, serta penguatan empati sosial mampu menurunkan tingkat stres dan memperbaiki keseimbangan emosional. Dari perspektif akademik, hal ini relevan dengan kajian integratif antara studi Islam, psikologi, dan kesehatan.

Kegiatan KUPAS ini menjadi bagian dari upaya Pascasarjana UIN Mahmud Yunus Batusangkar dalam memperkaya wawasan keilmuan yang kontekstual dan aplikatif. Diskusi berlangsung interaktif dengan partisipasi aktif peserta, baik yang hadir langsung maupun daring.

Melalui kegiatan ini, Pascasarjana berharap terbangun kesadaran kolektif bahwa Ramadhan dapat dimaknai tidak hanya sebagai kewajiban ritual, tetapi juga sebagai momentum terapi holistik untuk membangun ketahanan mental, spiritual, dan fisik sivitas akademika. (fath48)

***