UIN Mahmud Yunus Batusangkar Gelar Workshop Penguatan Mutu Pendidikan Tinggi Berbasis Akreditasi
Batusangkar, 14 November 2025 — Universitas Islam Negeri (UIN) Mahmud Yunus Batusangkar menyelenggarakan Workshop Penguatan Mutu Pendidikan Tinggi Berbasis Akreditasi pada Jumat 14 November 2025, sebagai langkah strategis memperkuat budaya mutu dan respons institusi terhadap perkembangan kebijakan akreditasi nasional.
Kegiatan dibuka oleh Wakil Rektor I, Prof. Suswati Hendriani, M.Pd., M.Pd yang menegaskan bahwa penguatan mutu harus menjadi komitmen kolektif seluruh unsur kampus.
“Mutu bukan hanya kebutuhan dokumentasi, melainkan komitmen moral sebuah institusi terhadap layanan pendidikan yang unggul. Akreditasi memberi kita cermin untuk melihat sejauh mana kualitas itu hadir secara nyata,” ujar Prof. Suswati saat membuka kegiatan.

Acara inti dipandu oleh Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) dan menghadirkan Prof. Dr. Slamet Wahyudi, S.T., M.T., anggota Dewan Eksekutif Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) sebagai narasumber utama. Dalam paparannya, ia memberikan gambaran komprehensif tentang dinamika akreditasi nasional, transformasi instrumen penilaian, serta pentingnya budaya mutu yang autentik.
Prof. Slamet menekankan bahwa orientasi akreditasi saat ini tidak lagi fokus pada kelengkapan administratif semata, tetapi pada kualitas proses dan hasil.
“Perguruan tinggi perlu menempatkan mutu sebagai budaya. Akreditasi akan bernilai ketika seluruh proses akademik, manajerial, dan layanan berjalan konsisten dan berbasis data. Kualitas harus hadir dalam tindakan, bukan hanya dalam laporan,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Pascasarjana UIN Mahmud Yunus Batusangkar, Prof. Dr. Marjoni Imamora, M.Sc., menyampaikan bahwa peningkatan mutu adalah fondasi penting dalam pengembangan perguruan tinggi Islam yang berdaya saing global.
“Pascasarjana mendorong seluruh program studi untuk bergerak secara terukur dan terarah. Mutu harus menjadi standar kerja harian, tidak hanya saat akreditasi tiba. Dengan budaya mutu yang kuat, kita mampu bersaing dan memberi kontribusi signifikan untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam,” ujar Prof. Marjoni.
Workshop berlangsung dinamis melalui sesi tanya jawab, diskusi kasus, serta pendalaman instrumen akreditasi. Para peserta—mulai dari pimpinan pascasarjana, fakultas, Kaprodi, hingga tim penjaminan mutu—mengapresiasi materi yang disampaikan karena relevan dengan tantangan akreditasi institusi dan prodi ke depan.
Menutup kegiatan, Prof. Slamet kembali mengingatkan bahwa akreditasi adalah proses pembelajaran institusi untuk terus berkembang.
“Accreditation is not a goal but a culture of quality.”
Kegiatan ditutup dengan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) untuk memastikan rekomendasi narasumber terintegrasi ke dalam sistem mutu UIN Mahmud Yunus Batusangkar secara berkelanjutan dan terukur. (fathur)
